Pengembangan Agrowisata Apel Berbasis Kearifan Lokal Di Poncokusumo

Dian Kartika Santoso, Respati Wikantiyoso

Abstract


Budaya merupakan akar dari sebuah bangsa. Wujud budaya dapat berupa aktivitas danmata pencaharian sehari-hari. Bertani adalah salah satu contoh aktivitas sekaligus matapencaharian dari masyarakat agraris Indonesia. Poncokusumo, merupakan salah satudaerah di Indonesia yang sebagian besar masyarakatnya hidup dari pertanian, khususnyakomoditas Apel. Sehingga, buah apel yang ada di Malang salah satunya dipasok dariPoncokusumo. Namun, penggunaan lahan dan mata pencaharian masyarakat berubahseiring dengan waktu. Apabila dibiarkan, Apel beserta budaya bertani yang telah adadapat tergerus. Oleh karena itu perlu upaya yang dapat mempertahankan Apel Malangbersamaan dengan budaya bertani masyarakat Poncokusumo. Hal ini tentu tidak dapatdilakukan tanpa acuan yang jelas. Sesuai dengan SDG’s poin ke delapan, upaya yangharus dilakukan harus memperhatikan komunitas berkelanjutan dan ekonomi yanglayak. Kabupaten Malang sendiri telah menunjuk Poncokusumo sebagai daerahAgropolitan. Namun, hal ini perlu dikaji kembali. Kajian ini menggunakan analisis SWOTuntuk mengevaluasi hal-hal yang berkaitan dengan kebijakan mengenai pengelolaanlahan pertanian Apel di Poncokusumo. Sehingga, kajian ini dapat menghasilkan solusiberupa pengembangan agrowisata berbasis kearifan lokal yang diharapkan mampumenjadi pendorong kegiatan ekonomi yang lebih baik sekaligus melestarikan budayabertani di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

 

DOI: https://doi.org/10.26905/lw.v10i1.2396


Keywords


agrowisata, lokalitas, pemberdayaan masyarakat

References


Anggara, D. S. T., Agus, S., & Ainurrasjid. (2017). Kendala Produksi Apel (Malus sylvestris Mill) Var. Manalagi di Desa Poncokusumo Kabupaten Malang. Jurnal Produksi Tanaman, Vol. 5 No. 2, 198 - 207.

Arroyo, C. G., Carla, B., & Samantha Rozier, R. (2013). Defining agritourism: A comparative study of stakeholders' perceptions in Missouri and North Carolina. Tourism Management, Volume 37, 39-47. doi:doi.org/10.1016/j.tourman.2012.12.007

BPS. (2011). Kecamatan Poncokusumo dalam Angka. Malang: BPS.

BPS. (2017). Kecamatan Poncokusumo dalam Angka. Malang: BPS.

Damayanti, A., Prasetyawan, Y., Wardhani, C. H., & Putri4, F. K. (2014). Paper presented at the Simposium Nasional RAPI XIII, Semarang.

Dwi, A. (2017, 13 Desember 2017). Nasib Apel Malang yang Semakin Malang. Radar Malang.

Hidayat, M. ( 2011). Strategi Perencanaan dan Pengembangan Objek WIisata (Studi Kasus Pantai Pangandaran Kabupaten Ciamis Jawa Barat). Tourism and Hospitality Essentials (THE) Journal, Vol. I, No. 1.

Kominfo. (2017). Kabupaten Malang dalam Angka. Malang: Pemkab Malang.

Mulyadi, M. (2015). Perubahan Sosial Masyarakat Agraris Ke Masyarakat Industri dalam Pembangunan Masyarakat di Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Bina Praja, 07 Nomor 04, 311-322.

Phillip, S., Hunter, C., & Blackstock, K. (2010). A typology for defining agritourism. Tourism Management, 31(6), 754-758. doi:10.1016/j.tourman.2009.08.001


Full Text: PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Indexing by

width="150" crossref
width=150;



Index Copernicus International (ICI)

In collaboration with

Image result for iplbi



Local Wisdom Scientific Online Journal (LWSOJ)

Center for Local Wisdom Studies of University of Merdeka Malang
(Pusat Studi Kearifan Lokal Universitas Merdeka Malang)
Department of Architecture

Mailing Address:

Address: Jl. Puncak Jaya No. 36, Malang, Indonesia, 65146
Email: lwsoj17@gmail.com

Creative Commons License